Green fashion menggunakan bahan yang ramah lingkungan untuk pakaian

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG — Tren green fashion atau busana berkelanjutan kini berkembang di Kota Bandung. Tren itu kebalikan dari fast fashion yang sering kali memakai bahan pencemar lingkungan. 


“Produk-produk dari kami hadir dengan model dan tren terkini namun tetap ramah lingkungan karena menggunakan material 100 persen katun sehingga dapat mengurangi dampak negatif pada lingkungan,” ujar CEO Produsen Pakaian Lokal Kota Bandung Zalmore, Aditya Hemming, Jumat (23/9/2022).

Ia mengatakan pihaknya terus mengikuti tren fast fashion dengan membangun konsep sustainable product, sekaligus mendukung green fashion atau busana ramah lingkungan.

“Dengan bahan serat katun organik alami, kami menciptakan konsep fashion trendi yang berkualitas namun tetap memiliki harga yang terjangkau,” katanya.

Aditya mengatakan konsumen dapat membedakan antara bahan katun murni tanpa campuran dengan bahan campuran. Salah satu cara membedakan pakaian di antaranya dibakar.

“Material 100 persen katun akan menjadi abu dan debu ketika dibakar, berbeda dengan campuran, biasanya terdapat kandungan polyester yang menghasilkan plastik ketika terbakar,” katanya.

Ia menambahkan, tren fast fashion di Indonesia berkembang sejak tahun 1990-2000-an. Industri tekstil mulai memproduksi massal berbagai macam fashion. Aditya menyebut fast fashion dapat menyajikan pilihan model baju dengan waktu produksi yang relatif singkat. Namun, seringkali menggunakan material-material campuran berbahan plastik atau polyester yang menimbulkan masalah dan pencemaran lingkungan.





Source link