Program-program majelis taklim yang terorganisasi dan memberi dampak pada sosial

REPUBLIKA.CO.ID JAKARTA — Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof Sukron Kamil, mengatakan, majelis taklim merupakan lembaga pengajaran Islam yang bersifat informal dilaksanakan teratur dengan materi pengajaran tersendiri. Figur utama majelis taklim adalah ulama, kiai, atau ustaz. Mereka menyampaikan narasi keislaman kepada khalayak.


Menurutnya, pada masa Kekhalifahan Bani Umayyah, kata majelis ditujukan untuk menyebut tempat yang digunakan orang-orang un tuk mendialogkan berbagai hal, salah satunya berkaitan dengan sastra. Sementara, majelis taklim juga tidak persis dengan Kuttab, yakni semacam pendidikan dasar untuk anak-anak usia dini.


Sementara itu, kata halaqah meski memiliki kedekatan makna dengan majelis taklim, menurut Prof Sukron, diksi tersebut lebih pada tarbiyah yang bersifat pengasuhan.]


“Majelis taklim itu khas Indonesia yang dibentuk berabad-abad silam dan terus berjalan hingga hari ini. Pengajarannya bersifat informal dan diberikan kepada mereka yang sudah dewasa. Kalau kepada yang masih muda, lebih sistematis itu kandisebut pesantren,” kata Prof Sukron kepada Republika beberapa hari lalu.


Namun, majelis taklim bukan saja sebatas tempat pengajaran agama. Lebih dari itu, kini majelis taklim telah menjadi bentuk pembinaan sosial. Menurut Prof Sukron, itu terlihat dari program-program majelis taklim yang terorganisasi dan memberi dampak pada sosial ke masyarakatan, misalnya saja dengan melakukan penggalangan bantuan sosial, mengada kan arisan kelompok majelis taklim, dan lainnya.





Source link