Waspadai Siklus Tapal Kuda DBD Hingga Kampanye Kontrasepsi Sulit Dilakukan

Suara.com – Kasus Dengue selama peralihan ke musim hujan ini mengalami peningkatan. Kementerian Kesehatan mengimbau masyarakat untuk mewaspadai siklus pelana kuda pada penderita dengue.

Sementara itu, kampanye tentang keluarga berencana kepada masyarakat ternyata lebih sulit dilakukan pasca reformasi. Terutama dalam penggunaan alat kontrasepsi yang dimaksudkan agar pasangan didak mengalami kehamilan yang tidak direncanakan. Dua kabar tadi merupakan berita terpopuler di kanal health Suara.com. Berikut berita terpopuler lainnya.

1. Kemenkes Imbau Masyarakat Waspada Siklus Pelana Kuda Pada Penderita DBD, Apa Itu?

Gejala Demam Berdarah Dengue dan Cara Mengatasinya (Pexels.com)
Gejala Demam Berdarah Dengue dan Cara Mengatasinya (Pexels.com)

Kasus Dengue selama peralihan ke musim hujan ini mengalami peningkatan. Kementerian Kesehatan mengimbau masyarakat untuk mewaspadai siklus pelana kuda pada penderita dengue.

Baca Juga:
Terpopuler Lifestyle: Siapa Afi Nihaya Faradisa yang Viral, OOTD Anak Putri Titian Jadi Jungkook BTS

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2PM) Kemenkes Maxi Rein Rondonuwu mengatakan bahwa pihaknya berharap bisa melaksanakan upaya pengenalan risiko dan pengendalian sejak dini supaya kasus bisa ditekan.

Baca selengkapnya

2. 8 Alat Kontrasepsi yang Dipastikan Aman Untuk Cegah Kehamilan

Ilustrasi alat kontrasepsi. (Shutterstock)
Ilustrasi alat kontrasepsi. (Shutterstock)

Kontrasepsi jadi alat paling umum digunakan oleh pasangan suami istri untuk menunda atau pun mencegah kehamilan yang tidak direncanakan. Penggunaan alat kontrasepsi juga bisa untuk mencegah penularan infeksi penyakit menular antar pasangan. 

Ada beragam jenis kontrasepsi yang bisa digunakan. Hanya saja masyarakat perlu cermat memilih kontrasepsi yang aman untuk kesehatan. Berikut delapan alat kontrasepsi yang telah direkomendasikan oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).

Baca Juga:
Terpopuler: Kalung Nagita Slavina Seharga Motor Hingga Livy Renata Masuk IGD Gegera Makan Tutut

Baca selengkapnya

3. Hari Kontrasepsi Sedunia, Manfaatnya Tidak Hanya Cegah Kehamilan Tak Diinginkan

Hari Kontrasepsi Sedunia.
Hari Kontrasepsi Sedunia.

Hari Kontrasepsi Sedunia diperingati setiap 26 September. Peringatan itu dibuat untuk mengingatkan masyarakat dunia akan pentingnya lakukan perencanaan keluarga dengan menggunakan alat kontrasepsi yang ada.

Menurut lembaga PBB khusus penanganan keluarga berencana, United Nations Fund for Population Activities (UNFPA), dikatakan bahwa perempuan berhak untuk menentukan jumlah, waktu, dan jarak kelahiran setiap anak. Cara itu dilakukan dengan penggunaan alat kontrasepsi saat berhubungan seksual. 

Baca selengkapnya

4. Berbagai Kondisi yang Membuat Seseorang Diinfus, Seperti Dialami Pedangdut Jirayut

Jirayut (Instagram/@jirayutdaa4official)
Jirayut (Instagram/@jirayutdaa4official)

Belum lama ini, pedangdut asal Thailand, Jirayut membagikan dirinya yang sedang di rawat di rumah sakit. Dalam foto yang diunggah di akun instagram pribadinya itu, terlihat kondisi tangan Jirayut diifus.

Selain itu, Jirayut juga memastikan jika kondisinya saat ini sudah baik-baik saja. Namun, ia enggan mengungkapkan secara jelas penyakit yang dideritanya.

Baca selengkapnya

5. 5 Manfaat Merencanakan Kehamilan Seperti yang Dilakukan Tasya Kamila, Bukan Hanya Baik Untuk Kesehatan

Tasya Kamila. (Suara.com/Dini Afrianti)
Tasya Kamila. (Suara.com/Dini Afrianti)

Tasya Kamila tengah hamil anak kedua yang kini telah masuk usia janin enam bulan. Berbeda dengan kehamilan pertamanya yang tidak terduga, Tasya mengungkapkan kalau kali ini ia dan suami memang telah merencanakan untuk memiliki anak kedua. 

Bahkan ketika Randi Bachtiar, suami Tasya, didiagnosis mengidap kanker dan harus menjalani kemoterapi, pasangan itu memutuskan untuk lakukan pembekuan sperma. 

Baca selengkapnya


|0|https://www.suara.com/health/2022/09/27/095142/terpopuler-waspadai-siklus-tapal-kuda-dbd-hingga-kampanye-kontrasepsi-sulit-dilakukan|1|https://media.suara.com/pictures/970×544/2022/06/21/80784-gejala-demam-berdarah-dengue-dan-cara-mengatasinya.jpg|2|www.suara.com|E|

Program bayi tabung klinik Blastula IVF rayakan bayi ke-100

Jakarta (ANTARA) – Klinik fertilitas Blastula IVF dari Siloam Hospitals Sriwijaya (Rumah Sakit Siloam Palembang) telah sukses menghadirkan proses kelahiran bayi ke 100 melalui program layanan bayi tabung.

Klinik Blastula IVF merupakan pusat fertilitas pertama di Sumatera Selatan dan pertama di Jaringan RS Siloam, yang mulai beroperasi pada Mei 2021.

Baca juga: Perjuangan Dea Ananda dan Ariel Nidji punya momongan lewat bayi tabung

“Dengan momentum lahirnya bayi tabung ke 100 ini, saya sampaikan bahwa masyarakat di Indonesia tidak perlu lagi harus ke luar negeri untuk mencari layanan fertilitas agar mendapatkan keturunan melalui kelahiran sang bayi. Cukup datang ke kota Palembang untuk mengikuti proses program kehamilan di Klinik Blastula IVF,” kata Direktur RS Siloam Sriwijaya Palembang, dr Bona Fernando MARS. dalam siaran pers pada Selasa.

Sementara itu kepala klinik Blastula IVF RS Siloam Sriwijaya Palembang dr. M. Airul Chakra Alibasya,Sp.OG – KFER, MIGS mengatakan dengan angka keberhasilan IVF sebesar 51 persen, klinik Blastula IVF telah menjadi rujukan nasional bagi para pasutri yang ingin mendapatkan keturunan melalui program kelahiran bayi tabung.

Pada 22 September 2022, telah lahir bayi pasangan Yeni Atilapiah dan Ade Pramanja, merupakan bayi ke 100 Blastula IVF, berjenis kelamin perempuan. Ade Pramanja dan Yeni Atilapiah, yang berdomisili di Kabupaten Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan telah berusaha mendapatkan buah hati selama enam tahun.

“Kami mendapat informasi bahwa Klinik Blastula IVF milik Siloam memiliki teknologi terkini dengan fasilitas lengkap. Dengan upaya ikhtiar, doa dan melengkapi persyaratan, akhirnya kehadiran bayi yang kami sangat rindukan pun tiba di tengah tengah keluarga kami. Kami sangat bersyukur kepada Tuhan atas rezeki dan juga kepada tim medis Klinik Blastula IVF,” kata Ade.

Sejak dibuka, Blastula telah melakukan lebih dari 400 siklus IVF dengan tingkat keberhasilan sebesar 51 persen.

Baca juga: Dokter sebut usia pengaruhi keberhasilan bayi tabung

Baca juga: Jalani proses bayi tabung, Anisa Rahma dan Anandito hamil bayi kembar

Baca juga: Persada Hospital – Morula IVF hadirkan Klinik Fertilitas Indonesia

Pewarta: Ida Nurcahyani
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
COPYRIGHT © ANTARA 2022

|0|https://www.antaranews.com/berita/3141229/program-bayi-tabung-klinik-blastula-ivf-rayakan-bayi-ke-100|1|https://img.antaranews.com/cache/800×533/2022/09/27/pexels-amina-filkins-5424696.jpg|2|www.antaranews.com|E|

Kampanye KB Lebih Sulit Dilakukan Saat Ini, Apa Sebabnya?

Suara.com – Kampanye tentang keluarga berencana kepada masyarakat ternyata lebih sulit dilakukan pasca reformasi. Terutama dalam penggunaan alat kontrasepsi yang dimaksudkan agar pasangan didak mengalami kehamilan yang tidak direncanakan.

“Tahun 2000-an, pada awal reformasi kita melihat dan juga kita sudah menyaksikan bahwa program Keluarga Berencana mengalami situasi yang tidak mudah di lapangan,” kata Ketua Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Dr. Ichsan Malik, M.Si., dalam webinar perayaan Hari Kontrasepsi Sedunia, Senin (26/9/2022). 

Salah satu faktornya, menurut Ichsan, juga karena alat kontrasepsi yang ketika belum banyak difasilitasi oleh pemerintah. Sejak 2020, jenis alat kontrasepsi yang disediakan pemerintah juga semakin banyak, tidak kalah dengan yang dijual oleh swasta. 

Ilustrasi kondom (Freepik)
Ilustrasi kondom (Freepik)

Melalui Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), alat kontrasepsi tersebut kerap dibagikan secara gratis kepada masyarakat kurang mampu.

Baca Juga:
Cara Memakai Kondom dengan Benar, Bikin Ereksi Lebih Tahan Lama

Ichsan menegaskan bahwa pemakaian alat kontrasepsi tidak hanya bertumpu oada perempuan. Laki-laki juga harus ikut berperan dalam perencanaan keluarga berrncana tersebut.

“Sayangnya sampai sekarang memang masih tetap juga kita lihat perempuan yang jadi tumpuan untuk penggunaan alat kontrasepsi. Peran serta pria masih juga menjadi masalah sampai sekarang. Pada perayaan hari kontrasepsi sedunia ini sekaligus juga kita ingin mendorong harus ada keseimbangan penggunaan alat kontrasepsi, bukan hanya perempuan tapi juga laki-laki harus kita dorong untuk penggunaan alat kontrasepsi,” tuturnya.

Penggunaan alat kontrasepsi yang seimbang pada perempuan dan laki-laki, lanjutnya, tidak hanya mencegah kehamilan yang tidak diinginkan. Tapi juga menurunkan angka kematian ibu dan anak.

“Jadi saya kira, isu keseimbangan penggunaan alat kontrasepsi ke depan ini perlu menjadi isu yang penting dan harus kita kembangkan,” katanya.

Sementara itu, data BKKBN tercatat bahwa kebutuhan KB masyarakat yang tidak terpenuhi hingga 2021 masih sebesar 18 persen. Target pemerintah akan menurunkan angka tersebut hingga 8,3 persen. 

Baca Juga:
Penyebab Stroke di Usia Dini, Simak Penjelasan Ilmiahnya

Masyarakat juga diminta agar bergeser dalam penggunaan alat kontrasepsi dari non MKJP menjadi MKJP. MKJP merupakan metode kontrasepsi yang sekali pemakaiannya untuk 3 tahun hingga seumur hidup, sedangkan non MKJP pemakainnya berkisar 1 sampai 3 bulan saja.


|0|https://www.suara.com/health/2022/09/27/081328/kampanye-kb-lebih-sulit-dilakukan-saat-ini-apa-sebabnya|1|https://media.suara.com/pictures/970×544/2020/07/07/60250-ilustrasi-kontrasepsi-iud.jpg|2|www.suara.com|E|

Seleksi Masuk PTN Tak Lagi Menguji Hapalan: Memudahkan Atau Menyulitkan?

Awal September lalu, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) mengumumkan perubahan mekanisme seleksi masuk perguruan tinggi negeri (PTN) mulai 2023. Dari ketiga jalur seleksi, jalur tes-lah yang mengalami perubahan signifikan, di mana peserta tak akan lagi mengerjakan tes mata pelajaran, melainkan tes skolastik yang menguji kemampuan penalaran mereka. Apakah perubahan itu mempermudah atau menyulitkan peserta?

Zefanya Benjamin Ayal, siswa kelas XII jurusan IPA di salah satu sekolah menengah atas negeri di Cileungsi, Bogor, Jawa Barat, masih bingung memilih jurusan kuliah.

Apakah akan memilih kedokteran, sesuai saran orang tuanya, atau memilih seni, seperti hasil tes bakat dan minat yang diikutinya. Namun yang jelas, “Aku sama orang tua juga inginnya di perguruan [tinggi] negeri, tapi untuk lebih spesifiknya belum tau sih mau di mana,” ungkap Zefa, sapaan akrabnya, kepada VOA.

Sambil memantapkan hati soal jurusan, ia berusaha menjaga nilai rapornya agar bisa mengikuti seleksi jalur prestasi, atau yang dikenal dengan sebutan SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Sebagai alternatif, ia juga mengikuti bimbingan belajar agar lebih siap mengikuti seleksi jalur tes, atau disebut juga SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri).

Akan tetapi, belum lama ini Zefa terkejut saat mendengar berita bahwa mekanisme seleksi masuk PTN berubah cukup signifikan dari apa yang ia sudah persiapkan.

Tak Ada Lagi Tes Hapalan

Awal September lalu, melalui siaran langsung di kanal YouTube Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek), kepala kementerian itu, Nadiem Makarim, mengumumkan sejumlah transformasi pada ketiga jalur seleksi masuk PTN, seperti tertuang dalam Permendikbudristek RI No. 48 Tahun 2022.

Untuk jalur prestasi, yang kini disebut Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP), seleksi dilakukan dengan mempertimbangkan dua komponen: minimal 50 persen berasal dari rata-rata nilai rapor seluruh mata pelajaran; kedua, maksimal 50 persen berasal dari dua mata pelajaran pendukung program studi yang dipilih, portofolio dan prestasi peserta.

Perubahan besar terjadi pada jalur kedua, yaitu jalur tes, alias SNBT (Seleksi Nasional Berdasarkan Tes). Peserta tak akan lagi mengerjakan tes per mata pelajaran, melainkan mengikuti tes potensi skolastik, yang akan mengukur potensi kognitif, penalaran matematika, penalaran literasi bahasa Indonesia dan penalaran literasi bahasa Inggris.

Transformasi juga berlaku untuk seleksi jalur mandiri yang digelar masing-masing kampus negeri. Perbedaan utamanya terletak pada tingkat transparansi dan akuntabilitas proses seleksi. Kini setiap kampus wajib memberi tahu kuota penerimaan mahasiswa per program studi atau fakultas, metode penilaiannya, jumlah biaya dan metode penentuan besaran biaya bagi calon mahasiswa yang lulus, jumlah peserta yang diterima, memberikan masa sanggah hasil seleksi, hingga penyediaan kanal pelaporan apabila peserta dan masyarakat menemukan pelanggaran peraturan seleksi.

Dalam wawancara dengan VOA 19 September lalu, Kepala Badan Standar, Kurikulum dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikbudristek Anindito Aditomo mengatakan bahwa perubahan itu dibuat untuk menyelaraskan mekanisme seleksi masuk PTN dengan kebijakan kurikulum, pembelajaran dan asesmen pendidikan yang baru, yang lebih fokus pada pengembangan kompetensi dasar dan karakter pelajar, bukan keluasan konten pelajaran.

Sebanyak 9.277 mahasiswa baru Universitas Lampung (Unila) mengikuti Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Senin, 15 Agustus 2022. (Foto: ilustrasi/ Humas Unila)

Sebanyak 9.277 mahasiswa baru Universitas Lampung (Unila) mengikuti Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Senin, 15 Agustus 2022. (Foto: ilustrasi/ Humas Unila)

“Di perguruan tinggi cukup menyeleksi berdasarkan kemampuan skolastik atau potensi anak-anak ini untuk bisa berhasil di perguruan tinggi berdasarkan kemampuan bernalar mereka yang applicable atau bisa diaplikasikan ke berbagai jurusan,” kata Nino, sapaan akrab Anindito.

Meski demikian, setiap kampus tetap dapat memberikan persyaratan tambahan bagi peserta yang mengikuti seleksi jalur prestasi atau tes pada program studi tujuan yang menuntut keterampilan khusus.

Selain mekanisme seleksi, lembaga yang menyelenggarakan seleksi masuk PTN tahun depan pun akan diganti dari Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi Negeri (LTMPT) menjadi Balai Pengelolaan Pengujian Pendidikan (BP3), yang berada di bawah Badan Standar, Kurikulum dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikbudristek, badan yang dikepalai Nino.

Sudah Waktunya Berubah

Konsultan pendidikan dan karir Ina Liem menyambut baik perubahan mekanisme seleksi masuk PTN mulai tahun depan, khususnya untuk jalur tes. Menurutnya, sudah saatnya ujian masuk perguruan tinggi dilakukan dengan menakar kemampuan penalaran siswa ketimbang mengetes materi hapalan.

Di tengah revolusi industri 4.0, yang menggabungkan teknologi digital dan internet dengan industri konvensional, kompetensi utama sumber daya manusia yang dibutuhkan adalah kemampuan memecahkan masalah (problem solving) untuk menciptakan inovasi. Menurutnya, kompetensi itu dapat dicapai ketika daya nalar dan pola pikir kritis seseorang dilatih dengan baik melalui kurikulum yang mengajarkan kemampuan berpikir tingkat tinggi (high order thinking skills), bukan tingkat rendah (low order thingking skills) yang identik dengan hapalan.

Dengan mekanisme yang baru, Ina memprediksi akan semakin banyak kampus yang akan mendapatkan calon mahasiswa yang sesuai kualifikasi jurusan maupun program studi.

“Di awal-awal ini, kalau prediksi saya, universitas akan mendapatkan siswa-siswa yang mengejutkan, mungkin yang nilai rapornya selama ini belum tentu dianggap berpotensi untuk diterima, tetapi malah keterima. Karena selama ini kan kita mengevaluasi anak-anak SMA yang rajin, tekun, menghapal, tetapi belum tentu paham.”

Meski demikian, Ina mengakui bahwa tidak semua tipe anak didik akan menyukai tes skolastik. Ia menyebut, anak-anak yang bersifat intuitif akan menyambut dengan baik, sementara anak-anak yang bersifat sensing, yang lebih senang berpraktik dengan memanfaatkan kelima panca indera, kemungkinan merasa sebaliknya.

Sebanyak 9.833 mahasiswa baru Universitas Gadjah Mada mengikuti Pelatihan Pembelajar Sukses bagi Mahasiswa Baru (PPSMB) yang berlangsung 1-13 Agustus. (Foto: Humas UGM)

Sebanyak 9.833 mahasiswa baru Universitas Gadjah Mada mengikuti Pelatihan Pembelajar Sukses bagi Mahasiswa Baru (PPSMB) yang berlangsung 1-13 Agustus. (Foto: Humas UGM)

Reaksi beragam juga diungkapkan peneliti kebijakan publik dan pendidikan Universitas Paramadina Totok Soefijanto. Seperti Ina, ia setuju bahwa metode seleksi mahasiswa sudah sepatutnya kini ditinjau dengan menggunakan ujian skolastik. Akan tetapi, ia memiliki sejumlah catatan.

Pertama, ia berharap penyelenggara seleksi dapat memastikan soal-soal tes skolastik dibuat dengan tingkat kesulitan yang setara antara paket yang satu dengan yang lainnya.

Selain itu, ia khawatir perubahan dilakukan terlalu tergesa-gesa. Menurutnya, diperlukan usaha dan waktu lebih untuk dapat memberikan pemahaman kepada guru dan peserta didik dari Sabang sampai Merauke mengenai perubahan tersebut, yang mungkin tidak dapat dilakukan secara maksimal selama kurang dari setahun ke depan.

“Seperti biasa kita selalu mengharapkan segala sesuatunya terjadi kebetulan. Kebetulan anak-anaknya nanti pintar, kebetulan anak-anaknya nanti memahami, kebetulan gurunya juga bisa ngajar, kebetulan aja, tapi bukan by design. Mutu pendidikan yang bagus itu harus by design,” ujarnya.

Bimbel Masih Dibutuhkan?

Totok dan Ina meyakini peran lembaga bimbingan belajar masih diperlukan untuk dapat membantu siswa mempersiapkan diri menghadapi seleksi masuk PTN. Lebih spesifik, Ina merujuk pada lembaga bimbel yang memiliki pendekatan pemahaman mendalam terhadap materi uji, bukan sekadar memberi tips dan trik jalan pintas untuk mengerjakan soal.

Nurul Fikri, lembaga bimbel dengan lebih dari 100 cabang di Indonesia, melakukan penyesuaian sepekan setelah Kemendikbudristek mengumumkan perubahan mekanisme seleksi masuk PTN. Chandra Kusuma, kepala bidang pendidikan Nurul Fikri, mengatakan lembaganya mengurangi porsi belajar materi Tes Kompetensi Akademik (TKA) hingga 75 persen. Tes Kompetensi Akademik sendiri merupakan tes untuk mengukur kemampuan peserta dalam bidang keilmuan atau kerap disebut tes mata pelajaran.

“Jadi kita baru akan mengubah secara drastis itu di bulan Januari, tapi di bulan-bualn ini kita sempat ubah juga. […] Kita masih menyisakan TKA ya, jadi kita nggak drastis menghilangkan seluruhnya, kita masih mengajarkan TKA-nya karena asumsi kita kan siswa juga masih punya peluang di seleksi mandirinya.”

Chandra menuturkan, bimbelnya pernah melakukan hal serupa pada tahun 2020 ketika SBMPTN tahun itu juga hanya mengujikan Tes Potensi Skolastik (TPS).

Hasilnya, ia mengklaim jumlah peserta bimbelnya yang lulus SBMPTN kala itu hampir dua kali lipat lebih banyak.

Di sisi lain, saat mengumumkan perubahan seleksi masuk PTN 6 Februari lalu, Mendikbudristek Nadiem Makarim justru menggagas perubahan tersebut agar meringankan beban finansial orang tua yang merasa harus mendaftarkan anak-anak mereka ke lembaga bimbel untuk persiapan seleksi.

Nadiem berharap, perubahan tersebut melepaskan ketergantungan peserta untuk menghapal konten dan mengikuti bimbel serta membuat guru percaya diri bahwa pembelajaran sesuai kurikulum sudah cukup menyiapkan pelajar menghadapi seleksi masuk PTN.

Kegalauan Peserta

Zefa, siswa kelas XII di Cileungsi, merasa campur aduk menanggapi perubahan mekanisme seleksi masuk tersebut. Di satu sisi, ia senang karena artinya beban hapalannya berkurang. Di sisi lain, “nggak terlalu begitu senang, karena aku udah ikut les dan aku juga – untuk mengerjakan soal-soal yang seperti bacaan begitu – bisa dibilang malas dan kurang teliti.”

Sementara Felicia Amanda, siswi kelas XII jurusan IPS di salah satu SMA swasta di Cibubur, menyambut baik perubahan tersebut. Namun, saat ditanya apakah ia merasa lebih percaya diri untuk menghadapi seleksi dengan perubahan yang terjadi, ia mengatakan, “Nggak sepercaya diri itu juga sih dan aku nggak berpikir kayak gitu. Cuma aku lebih berpikir kayak, ‘Oh, mungkin belajarnya bisa lebih fokus ke satu aja nih,’ karena kan materinya lebih sedikit. […] Ini tuh menyangkut hidup dan mati aku.”

Lain halnya dengan Muhammad Syach Iqbal, siswa kelas XII jurusan IPS di salah satu SMA swasta di Banjarmasin, yang optimistis terhadap perubahan itu.

“Pasti deg-degan lah semuanya, tapi intinya kita harus yakin aja dengan kemampuan diri kita dan memberikan apa yang terbaik. […] Apalagi [perubahan] itu akan membuat opsi lintas jurusan lebih mudah.”

Tes Skolastik di AS

Di Amerika Serikat, metode tes seleksi masuk perguruan tinggi yang serupa dengan metode baru Kemendikbudristek sudah diterapkan sejak hampir seabad lalu dengan nama SAT, alias ujian asesmen skolastik.

SAT sendiri merupakan tes yang diselenggarakan oleh lembaga nonprofit AS bernama College Board, yang dikelola oleh Educational Testing Service, atau Badan Pengujian Pendidikan.

Peserta mengerjakan dua bagian tes, yaitu tes Bacaan dan Tulisan Berdasarkan Petunjuk (Evidence-Based Reading and Writing/EBRW), yang sering disebut tes bahasa Inggris, serta tes Matematika dengan tujuan untuk menilai kesiapan peserta mengikuti perkuliahan di perguruan tinggi.

Selain SAT, terdapat pula ACT, alias Ujian Perguruan Tinggi Amerika, yang dikelola oleh lembaga nonprofit dengan nama yang sama, ACT. Dalam tes itu, terdapat empat bidang keahlian yang diujikan, yaitu bahasa Inggris, Matematika, bacaan dan penalaran ilmiah, yang lebih fokus menakar kemampuan pemecahan masalah ketimbang hapalan, serta – seperti SAT – ditujukan untuk menilai kesiapan peserta memasuki dunia perkuliahan. [rd/em]

|0|https://www.voaindonesia.com/a/6764398.html|1|https://gdb.voanews.com/019e0000-0aff-0242-c29d-08da859c0197_w1200_r1.png|2|www.voaindonesia.com|E|

Helikopter Militer Jatuh di Pakistan Barat Daya, 6 Tentara Tewas

Militer Pakistan, Senin (27/9) mengatakan salah satu helikopternya jatuh di distrik di bagian barat daya yang bergejolak, menewaskan seluruh enam tentara di dalamnya.
Helikopter itu jatuh dalam “misi penerbangan” di Khost, kota terpencil di provinsi Baluchistan Minggu malam dan dua perwira tinggi termasuk di antara yang tewas, kata militer dalam sebuah pernyataan. Tidak disebutkan rincian lebih jauh maupun alasan jatuh serta jenis pesawat itu.

Kelompok pemberontak bernama Tentara Pembebasan Baluchistan (BLA) dalam sebuah pernyataan mengklaim menembak jatuh helikopter tersebut. BLA mengatakan helikopter tersebut telah datang di daerah itu untuk menyelamatkan dua perwira militer yang diculik militan anggotanya dalam sebuah penyergapan di distrik tersebut.

Klaim ini tidak dapat segera diverifikasi dari sumber-sumber independen dan pemberontak kerap melansir rincian yang berlebihan mengenai aktivitas mereka di wilayah itu.

Kelompok etnis Baluch yang terlarang itu kerap merencanakan serangan dengan target-target militer di provinsi miskin di Pakistan itu yang berbatasan dengan Afghanistan dan Iran.

Awal bulan lalu, enam perwira militer senior Pakistan tewas sewaktu helikopter mereka jatuh karena cuaca buruk sewaktu berlangsung kegiatan penanggulangan banjir di distrik Lasbela, Baluchistan. Seorang letnan jenderal angkatan darat, seorang mayor jenderal dan seorang brigadier termasuk di antara yang tewas ketika itu.

Hujan munson yang lebat telah menyebabkan bencana banjir di beberapa daerah Pakistan, termasuk Baluchistan, sehingga menewaskan lebih dari 1.600 orang. Banjir juga menghanyutkan desa-desa, jalan, jembatan dan ratusan ribu rumah sejak pertengahan Juni. [uh/ab]

|0|https://www.voaindonesia.com/a/helikopter-militer-jatuh-di-pakistan-barat-daya-6-tentara-tewas/6763391.html|1|https://gdb.voanews.com/322F37AD-480B-416F-8F6F-EBC89BF13895_w1200_r1.png|2|www.voaindonesia.com|E|

Masyarakat diimbau tetap vaksinasi “booster’ meski COVID-19 landai

…menyebabkan atensi untuk melakukan vaksin booster juga menjadi turun

Jakarta (ANTARA) – Plt. Direktur Pengelolaan Imunisasi Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Prima Yosephine mengingatkan masyarakat untuk segera melakukan vaksin penguat atau booster meskipun kasus COVID-19 di Indonesia sudah melandai.

“Kendala kita saat ini adalah ternyata atensi masyarakat dengan landainya kasus COVID-19 menyebabkan atensi untuk melakukan vaksin booster juga menjadi turun,” kata Prima dalam diskusi “Bedah Buku Vaksinasi COVID-19” yang diikuti secara daring dari Jakarta, Senin.

Menurut Prima, landainya kasus COVID-19 saat ini rupanya menyebabkan sebagian besar masyarakat merasa bahwa keadaan sudah aman dan vaksin booster dirasa bukan menjadi kebutuhan yang mendesak.

Baca juga: Wujudkan endemi, dokter imbau masyarakat segera vaksin booster pertama

“Untuk vaksin booster sepertinya kebutuhannya tidak terlalu dirasakan mendesak (oleh masyarakat) walaupun dari pemerintah sudah mengeluarkan kebijakan yang menyampaikan bahwa ada syarat untuk vaksin booster dalam melakukan berbagai kegiatan terutama perjalanan, baik dalam negeri maupun luar negeri, serta entry atau masuk ke fasilitas-fasilitas publik lainnya,” ujar Prima.

Padahal, lanjut dia, vaksin booster juga tak kalah penting dari vaksin pertama dan kedua untuk meningkatkan kekebalan tubuh dan mencegah dampak yang parah akibat infeksi COVID-19.

Berdasarkan data dari Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 per 26 September 2022, sebanyak 204.479.157 orang sudah melakukan vaksinasi COVID-19 dosis pertama dan 171.080.578 orang sudah melakukan vaksinasi COVID-19 dosis kedua.

Baca juga: FDA setujui vaksin booster Pfizer dan Moderna terbaru untuk Omicron

Sementara penerima vaksin COVID-19 dosis ketiga atau booster mencapai 63.188.293 orang, sedangkan penerima dosis keempat atau booster kedua bagi tenaga kesehatan sebanyak 591.794 orang.

Prima mengatakan, percepatan untuk vaksin booster COVID-19 menjadi kerja sama bagi seluruh pihak, tak hanya pemerintah namun juga masyarakat secara luas karena melandainya kasus COVID-19 bukan berarti bahwa pandemi sudah berakhir.

“Jadi ini masih terus menjadi kerja sama kita semua, walaupun saat ini kita sedang menantikan lagi ketersediaan dari vaksin COVID-19 karena vaksin yang sudah kita terima sudah sangat menipis karena sudah dipergunakan selama beberapa waktu ini,” kata Prima.

Baca juga: Mulai 30 Agustus, penumpang KA jarak jauh wajib vaksin booster

Baca juga: Satgas: Vaksin booster diwajibkan bagi pelaku perjalanan

Baca juga: Kemenkes belum berencana gunakan Pfizer untuk booster usia 16-17 tahun

Pewarta: Suci Nurhaliza
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2022

|0|https://www.antaranews.com/berita/3140029/masyarakat-diimbau-tetap-vaksinasi-booster-meski-covid-19-landai|1|https://img.antaranews.com/cache/800×533/2022/09/26/collage-2022-09-26T173153.544.jpg|2|www.antaranews.com|E|

Kata dokter soal kondom pengaruhi kenikmatan seks

Sarannya, pilih kondom yang tepat

Jakarta (ANTARA) – Sekretaris Jenderal Perkumpulan Obstetri Ginekologi Indonesia – Jakarta Raya dr Ulul Albab, SpOG mengomentari pendapat sebagian pria yang mengatakan kondom dapat mempengaruhi kenikmatan saat berhubungan intim.

Ulul membenarkan adanya pendapat ini. Tetapi, menurut dia, permasalahan terletak pada bahan kondom yang mungkin mempengaruhi sensasi saat pria dan pasangannya melakukan hubungan intim.

“Sarannya, pilih kondom yang tepat. Perlu diingat, ada beberapa bahan-bahan kondom, bukan hanya lateks tetapi ada beberapa jenis yang lain,” kata Ulul melalui pesan elektroniknya kepada ANTARA, Senin.

Baca juga: IPADI: Hari Kontrasepsi ingatkan pentingnya mengatur jarak kehamilan

Selain bahan, perhatikan juga tebal dan tipisnya kondom dan cara pemasangannya karena kedua hal ini juga berpengaruh pada kenikmatan saat berhubungan.

Tak hanya soal kondom, bertepatan dengan peringatan Hari Kontrasepsi Sedunia, Ulul juga meluruskan dua mitos yang masih ada di masyarakat terkait kontrasepsi, salah satunya kontrasepsi hormonal membuat rahim perempuan kering sehingga berhubungan dengan kenikmatan seksual.

Dia mengatakan tak ada kaitan antara kontrasepsi hormonal dan rahim menjadi kering. Menurut Ulul, bahkan ada beberapa jenis kontrasepsi hormonal yang justru memberikan proteksi terhadap dinding rahim.

“Kemudian fungsi kontrasepsi hormonal cara kerjanya salah satunya mengentalkan serviks sehingga membuat sperma tidak bisa naik ke atas bertemu telur. Jadi tidak ada kaitannya dengan kenikmatan atau sensasi saat berhubungan seksual,” jelas dia.

Mitos lainnya terkait kontrasepsi jenis IUD yang dapat membuat rasa kurang nyaman suami saat berhubungan seksual. Ini salah satunya terkait benang yang sampai ke vagina saat pemasangan IUD.

Baca juga: Mitos dan persepsi yang keliru seputar alat kontrasepsi

Ulul menuturkan, ada aturan khusus dalam pemasangan IUD. Panjang dan pendeknya benang yang tertinggal dalam rahim dapat berpengaruh pada kenyamanan suami.

“Makanya dengan pemasangan yang tepat, benang yang tidak terlalu panjang, jenis IUD yang dipilih cukup bagus, maka itu semua (masalah) bisa dihindarkan,” tutur dia.

Ulul menambahkan, pada prinsipnya, kontrasepsi itu aman dan nyaman digunakan sehingga pasangan suami istri tak perlu khawatir saat berhubungan intim.

“Justru dengan kontrasepsi harusnya tidak ada rasa khawatir untuk terjadi kehamilan sehingga berhubungan seksual jadi lebih maksimal dan lebih intim,” demikian kata dia.

Baca juga: Dokter: Penggunaan pil kontrasepsi bantu regulasi suasana hati

Baca juga: Alat kontrasepsi bisa digunakan langsung setelah melahirkan

Baca juga: Psikolog: Mitos soal anak sebabkan rendahnya minat gunakan kontrasepsi

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2022

|0|https://www.antaranews.com/berita/3139989/kata-dokter-soal-kondom-pengaruhi-kenikmatan-seks|1|https://img.antaranews.com/cache/800×533/2022/09/25/Screenshot_2022-09-25-15-46-18-44_99c04817c0de5652397fc8b56c3b3817_copy_1024x683.jpg|2|www.antaranews.com|E|

Kemenkes Imbau Masyarakat Waspada Siklus Pelana Kuda Pada Penderita DBD, Apa Itu?

Suara.com – Kasus Dengue selama peralihan ke musim hujan ini mengalami peningkatan. Kementerian Kesehatan mengimbau masyarakat untuk mewaspadai siklus pelana kuda pada penderita dengue.

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2PM) Kemenkes Maxi Rein Rondonuwu mengatakan bahwa pihaknya berharap bisa melaksanakan upaya pengenalan risiko dan pengendalian sejak dini supaya kasus bisa ditekan.

“Upaya pengenalan risiko dan pengendalian sejak dini ini, kami harapkan bisa dilaksanakan secara terpadu, masif, total, berkesinambungan, dan tepat sasaran agar kasus Dengue bisa kita tekan,” katanya pada Senin (26/9/2022).

Siklus pelana kuda merupakan sebutan bagi tiga fase demam yang bergerak naik dan turun pada pasien Dengue.

Baca Juga:
Kasus DBD Meningkat di Kaltim, 2 Wilayah Ini Jadi Perhatian Diskes

Fase pertama ditandai dengan demam tinggi dalam kisaran 40 derajat Celcius pada hari pertama dan ketiga setelah masa inkubasi virus yang dibawa dari gigitan nyamuk betina Aedes Aegypti.

Pada fase kedua atau yang dikenal sebagai fase kritis, ditandai dengan penurunan demam mencapai 30 derajat Celcius pada hari keempat hingga kelima. Pada fase itu, demam pasien turun drastis seolah telah sembuh.

“Pada fase ini, perlu perawatan khusus di rumah sakit. Kemungkinan bisa terjadi Dengue Shock Syndrome,” ujarnya.

Fase terakhir adalah masa penyembuhan di hari keenam hingga ketujuh yang ditandai dengan demam kembali tinggi, sebagai reaksi dari kesembuhan.

Masyarakat diimbau agar waspada jika terjadi demam yang tidak turun dalam dua hingga tiga hari dan disertai dengan bintik merah.

Baca Juga:
Segera Tiba di Indonesia, Vaksin Cacar Monyet dari Denmark

Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk jangan menunda ke rumah sakit atau Puskesmas karena bisa menjadi penyebab kematian.

“Kenali gejala Dengue, jangan tunda ke rumah sakit atau Puskesmas, karena ini sering jadi penyebab kematian,” katanya.

Berdasarkan catatan P2PM Kemenkes RI sampai pekan ke-36, jumlah kumulatif kasus konfirmasi sejak Januari 2022 dilaporkan sebanyak 87.501 kasus dengan rasio 31,38/100.000 penduduk dan 816 kematian (CFR 0,93 persen).

Penambahan kasus dilaporkan berasal dari 64 kabupaten/kota di Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Kalimantan Timur.

Kabupaten/kota yang mencatat kasus Dengue tertinggi, di antaranya Kota Bandung 4.196 kasus, Kabupaten Bandung 2.777 kasus, Kota Bekasi dengan 2.059 kasus, Kabupaten Sumedang 1.647 kasus, dan Kota Tasikmalaya 1.542 kasus.

Jika dibandingkan dengan laju kasus dalam kurun setahun terakhir, terjadi peningkatan 111 kasus kematian yang dilaporkan akibat Dengue.

Dari 73.518 kasus Dangue pada 2021, sebanyak 705 pasien di 203 kota/kabupaten diantaranya meninggal. Pada 2022, dari total 87.501 kasus, sebanyak 816 pasien di 225 kota/kabupaten dilaporkan meninggal.

Maxi menambahkan upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah Dengue, di antaranya dengan Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik melalui pelibatan anggota keluarga untuk melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN),

Selain itu, dengan memeriksa tempat perindukan nyamuk di lingkungan rumah, mengisi kartu pemeriksaan jentik nyamuk, memberikan larvasida pada tempat penampungan air yang susah untuk dikuras, serta memeriksa dan memberantas tempat perindukan nyamuk di lingkungan rumah. [ANTARA]


|0|https://www.suara.com/health/2022/09/26/171025/kemenkes-imbau-masyarakat-waspada-siklus-pelana-kuda-pada-penderita-dbd-apa-itu|1|https://media.suara.com/pictures/970×544/2022/06/21/80784-gejala-demam-berdarah-dengue-dan-cara-mengatasinya.jpg|2|www.suara.com|E|

Pro Kontra Esteh Indonesia Tinggi Gula, Ketua PDGI Sampai Angkat Bicara

Suara.com – Media sosial Twitter masih ramai perdebatan produk Esteh Indonesia yang dinilai tinggi gula sebabkan diabetes, mendapatkan respon Ketua Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) Usman Sumantri.

Usman mengatakan tidak hanya makanan manis yang merusak kesehatan gigi, tapi juga minuman manis juga bisa merusak gigi, karena kandungan gula dalam minuman bisa menempel di gigi.

“Sama aja, walaupun (minuman manis) masuk (ke tenggorokan langsung) tetap ada yang nyangkut juga (di gigi).” ujar dr. Usman kepada suara.com di Kantor PB IDI, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (26/9/2022).

Ilustrasi Gigi Menguning. (freepik)
Ilustrasi Gigi Menguning. (freepik)

Ia menambahkan, jika minuman manis mengandung gula terlebih dengan kekentalan kadar gula yang cukup tinggi, maka akan semakin mudah menempel di gigi.

Baca Juga:
Pria yang Kritik Kadar Gula Minta Maaf ke Es Teh Indonesia, Warganet Geram Ikut Bela Konsumen

“Karena kekentalannya beda, apalagi kalau dia nggak kumur-kumur, yang bagusnya setelah minum manis dia tetap kumur-kumur,” sambung dr. Usman.

Ia menjelaskan gula yang menempel di gigi dalam waktu lama bisa merusak email gigi atau lapisan luar pada gigi, yang melindungi bagian lainnya dari gigi.

“Apalagi dia (gula) lebih dari 8 jam menempel, terjadi fermentasi asam, itu dia merusak email gigi atau anak di bawah 7 tahun giginya cepet banget rusak.

“Padahal gigi pertama permanen tumbuh itu usia 6 sampai 7 tahun, kalau itu udah rusak, untuk gigi dewasa juga akan terpengaruh,” jelasnya.

Meski begitu, Alumni Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia (FKG UI) itu mengatakan masyarakat tetap boleh mengonsumsi makanan manis, tapi ia menyarankan untuk minum sewajarnya.

Baca Juga:
Nama Nagita Slavina Terseret Usai Es Teh Indonesia Ramai Diperbincangkan, Siapa Pemilik Sebenarnya?

“Kalau mau minum teh (kemasan) kotak, sekali minum udah berapa glukosanya, sampai 18 gram. Padahal kita hanya boleh konsumsi 20 hingga 30 gram (gula atau glukosa) sehari, satu (kemasan) aja udah hampir 20 gram. Itu yang menyebabkan orang kita banyak kena diabetes,” paparnya.


|0|https://www.suara.com/health/2022/09/26/165853/pro-kontra-esteh-indonesia-tinggi-gula-ketua-pdgi-sampai-angkat-bicara|1|https://media.suara.com/pictures/970×544/2020/11/05/33536-minuman-esteh-indonesia-instagram-atestehindonesia.jpg|2|www.suara.com|E|

IDI Tolak Rancangan Omnibus Law Kesehatan yang Dibahas DPR, Apa Alasannya?

Suara.com – Ikatan Dokter Indonesia (IDI) bersama beberapa organisasi kedokteran Indonesia menolak Rancangan Undang-Undang atau RUU Kesehatan atau Omnibus Law, karena dinilai tidak memiliki urgensi.

Urgensi RUU Kesehatan tidak sebanding dengan beberapa penanganan penyakit seperti Demam Berdarah Dengue (DBD), tuberkulosis (TBC), dan sebagainya yang harus segera diatasi.

Tidak hanya IDI, penolakan ini juga disampaikan Ikatan Bidan Indonesia (IBI), Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) dan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI).

Ikatan Dokter Indonesia. (Suara.com/Dini Afrianti)
Ikatan Dokter Indonesia. (Suara.com/Dini Afrianti)

“Hal paling urgen yang saat ini harus dilakukan pemerintah adalah memperbaiki sistem kesehatan yang secara komprehensif berawai dan pendidikan hingga ke pelayanan,” ujar Ketua IDI dr. Adib Khumaidi saat konferensi pers di Menteng, Gondangdia, Jakarta Pusat, Senin (26/8/2022).

Baca Juga:
Unjuk Rasa Buruh di Purwakarta Tolak Kenaikan Harga BBM dan Omnibus Law

Menurut dr. Adib, saat ini baiknya DPR-RI fokus mengawal tantangan persoalan penyakit di Indonesia, dengan fokus kepada perbaikan sistem layanan dan reformasi sistem kesehatan di Indonesia.

“Misalnya TBC, gizi buruk, kematian ibu-anak atau KIA, penyakit-penyakit triple burden yang memerlukan pembiayaan besar,” ungkap dr. Adib.

Termasuk juga, kata dia pembiayaan kesehatan masyarakat Indonesia dengan sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), juga perlu dievaluasi dan diperbaiki karena hingga saat ini masih terjadi berbagai kendala di lapangan.

“Pembiayaan kesehatan melalui sistem JKN, dan pengelolaan data kesehatan di era kemajuan teknologi serta rentannya kejahatan siber, haruslah dihadapi dengan melibatkan stakeholder dan masyarakat,” sambung dr. Adib.

Sayangnya perkumpulan organisasi profesi ini, belum menerima draf atau bahkan tidak dilibatkan dalam penyusunan RUU Kesehatan atau Omnibus Law.

Baca Juga:
Pandemi Covid-19 Terkendali, PB IDI Wanti-wanti Masyarakat: Jangan Terlalu Euforia

“Sumber isi konten substansi (RUU Kesehatan) belum didapatkan, tapi ada kekhawatiran yang perlu kami sampaikan. Nanti jangan sampai munculnya draft, tapi kami organisasi belum dapatkan draf-nya, keterlibatan kami belum dilibatkan,” kata dia.


|0|https://www.suara.com/health/2022/09/26/155916/idi-tolak-rancangan-omnibus-law-kesehatan-yang-dibahas-dpr-apa-alasannya|1|https://media.suara.com/pictures/970×544/2022/09/26/74854-ikatan-dokter-indonesia.jpg|2|www.suara.com|E|