MNC Peduli Adakan Pelatihan Digital Pemanfaatan Gadget untuk Siswa SD dan MI : Okezone News

BOYOLALIMNC Peduli bekerja sama dengan Pemerintah Desa Banyuanyar, Kecamatan Ampel, Boyolali, Jawa Tengah melakukan pelatihan digital tentang pemanfaat gadget untuk anak sekolah dasar. Diharapkan melalui kegiatan tersebut, anak bisa lebih bijak dalam menggunakan gadget.

Peserta pelatihan adalah sejumlah anak anak yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah. Mereka diberi pelatihan tentang pemanfaatan gadget secara sehat dan positif bagi anak di Gedung IKM Kampus Kopi Banyuanyar desa setempat, Selasa (17/5/2022).

Dalam pelatihan tersebut, para siswa diajari cara mengakses, browsing, mendownload sesuai kebutuhan anak serta memanfaatkan sejumlah media sosial dengan baik dan benar bagi anak usia sekolah.

Tengku Havid, Head of CSR MNC Peduli mengatakan kegiata tersebut sengaja dilakukan untuk menekan dampak buruk menggunakan gadget secara terus menerus.

Baca juga: Beri Bantuan Buku, Kedatangan MNC Peduli Disambut Hangat Oleh Anak-Anak Rumah Baca Zhaffa

“Mengingat masa pandemi Covid-19 telah memaksa anak-anak untuk belajar sistem daring atau jarak jauh yang mengunakan sarana gadget atau smartphone dalam belajar,” ucapnya.

Terlebih saat ini di Desa Banyuanyar telah memiliki sarana internet gratis yang sudah terpasang sejak beberapa tahun lalu oleh pemerintah desa. Dari internet gratis tersebut, seluruh warga bisa mengakses internet gratis, tak terkecuali anak-anak.

Anak-anak pun mengaku senang mendapat pelatihan tersebut. Salah satunya Keysha Nuraini siswi kelas enam. Dia kini dapat mengetahui cara memafaatkan gadget sesuai kebutuhannya yang bermanfaat khususnya untuk mendukung dalam belajar.

Dalam kesempatan tersebut, MNC Peduli juga memberikan sejumlah bingkisan dan buku untuk anak-anak sekolah.

Selain pelatihan pemanfaat gadget, anak-anak juga diajari menaman kopi karena di Desa Banyuanyar merupakan salah satu desa penghasil kopi di Boyolali.


UN Floats Plan to Boost Renewables as Climate Worries Mount

The United Nations chief on Wednesday launched a five-point plan to jump-start broader use of renewable energies, hoping to revive world attention on climate change as the U.N.’s weather agency reported that greenhouse gas concentrations, ocean heat, sea-level rise, and ocean acidification reached record highs last year.

“We must end fossil fuel pollution and accelerate the renewable energy transition before we incinerate our only home,” U.N. Secretary-General Antonio Guterres said. “Time is running out.”

His latest stark warning about possible environmental disaster comes after the World Meteorological Organization issued its State of the Climate Report for 2021, which said the last seven years were the seven hottest on record. The impacts of extreme weather have led to deaths and disease, migration, and economic losses in the hundreds of billions of dollars — and the fallout is continuing this year, WMO said.

“Today’s State of the Climate report is a dismal litany of humanity’s failure to tackle climate disruption,” Guterres said. “The global energy system is broken and bringing us ever closer to climate catastrophe.”

In his plan, which leans into the next U.N. climate conference taking place in Egypt in November, Guterres called for fostering technology transfer and lifting of intellectual property protections in renewable technologies, like battery storage.

Such ambitions – as with his call for transfers of technologies aimed to fight COVID-19 – can cause innovators and their financial backers to bristle: They want to reap the benefits of their knowledge, investments and discoveries — not just give them away.

Secondly, Guterres wants to broaden access to supply chains and raw materials that go into renewable technologies, which are now concentrated in a few powerful countries.

The U.N. chief also wants governments to reform in ways that can promote renewable energies, such as by fast-tracking solar and wind projects.

Fourth, he called for a shift away from government subsidies for fossil fuels that now total a half-trillion dollars per year. That’s no easy task: Such subsidies can ease the pinch in many consumers’ pockets – but ultimately help inject cash into corporate coffers too.

“While people suffer from high prices at the pump, the oil and gas industry is raking in billions from a distorted market,” Guterres said. “This scandal must stop.”

Finally, Guterres says private and public investments in renewable energy must triple to at least $4 trillion dollars a year. He noted that government subsidies for fossil fuels are today more than three times higher than those for renewables.

Those U.N. initiatives are built upon a central idea: That human-generated emissions of greenhouse gas in the industrial era have locked in excess heat in the atmosphere, on the Earth’s surface, and in the oceans and seas. The knock-on effect has contributed to more frequent and severe natural disasters like drought, hurricanes, flooding and forest fires.

Climate scientist Zeke Hausfather of the tech company Stripe and Berkeley Earth, a nonprofit focused on environmental data science, says a good way to head toward net-zero emissions is “to make clean energy cheap.”

“While rich countries can afford to spend extra on clean energy, poor and middle income countries may be less willing to accept tradeoffs between reducing emissions and lifting millions out of abject poverty,” he said. “If clean energy sources are cheaper than fossil fuels, they become win-win and will be adopted more rapidly.”

The WMO report breaks little new ground in terms of data, but compiles earlier studies into a broader picture of the global climate.

Its secretary-general, Petteri Taalas, pointed to a downward blip in emissions in 2020 when the coronavirus pandemic dampened human activity. But he said that doesn’t change the “big picture” because carbon dioxide – a leading greenhouse gas – has a long lifetime and lingers on, and emissions have been growing since then anyway.

“We have seen this steady growth of carbon dioxide concentration, which is related to the fact that we are still using too much fossil fuel,” Taalas said in an interview. “Deforestation in regions like Amazon, Africa and southern Asia still continue.”

Last year’s U.N. climate conference in Glasgow, Scotland, failed to muster carbon-cutting pledges from the “BRICS” countries — Brazil, Russia, India, China, and South Africa — which threaten a key goal of the 2015 Paris accord to limit global warming to 1.5 degrees Celsius, he said.

“We are rather heading towards 2.5- to 3-degree warming instead of 1.5,” Taalas said.

Climate experts lauded the U.N. ambitions and lamented the WMO findings, and said some countries are headed in the wrong direction.

“If climate change is death by one thousand cuts, in 2021 we took our thousandth,” said Rob Jackson, professor of Earth System Science at Stanford University, who also chairs the Global Carbon Project that tracks carbon emissions.

“Dirty coal use roared back through economic stimulation incentives for COVID in China and India. We built more new coal plant capacity worldwide than we took offline,” he added. “How is this possible in 2021?”

Jonathan Overpeck, a professor of environmental education at the University of Michigan, noted that fossil fuels have a role in the Russian government’s war in Ukraine. Russia is a key global producer of oil and gas, including through a pipeline that transits Ukraine to supply homes and businesses in Europe.

“The secretary-general has it right in pointing the blame at fossil fuels. Fossil fuels are creating an ever-worsening climate crisis and all that comes with it,” Overpeck said. “The solution for climate change, the deadly air pollution and true national security is to leave fossil fuels behind in favor of clean renewable energy.”

“It’s getting scary,” he added. “The climate crisis and the European war are a call to action, and to rid the planet of fossil fuels as fast as we can.”


Ganjar Nilai Pakai Masker Masih Tetap Perlu

Rabu, 18 Mei 2022 – 18:22 WIB

VIVA – Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, melakukan beberapa kegiatan di Semarang dan Sukoharjo pada hari ini, Rabu, 18 Mei 2022.

Ganjar Pranowo tidak memakai masker saat olahraga di Semarang.

Ganjar Pranowo tidak memakai masker saat olahraga di Semarang.

Photo :

  • Teguh Joko Sutrisno/ tvOne.

Pada kegiatan di Semarang, Ganjar tidak memakai masker baik saat olahraga jalan kaki dan bertemu warga. Tapi kemudian di Sukoharjo, Ganjar memakai masker ketat saat kegiatan dengan beberapa kalangan.

Masyarakat Harus Lihat Situasi dan Kondisi

Dua hal yang berbeda itu dilakukannya karena menurut Ganjar masker masih tetap perlu. Menurutnya, masyarakat harus melihat situasi dan kondisi di mana ia berada.

Misalkan saat beraktivitas di luar ruangan dan tidak ramai, tidak memakai masker tidak apa-apa. Kalau di kerumunan, di luar ruangan dan jaraknya terlalu pendek, ia menyarankan tetap pakai masker.

Baca juga: MUI Bolehkan Salat Berjamaah Tak Pakai Masker, Ada Tapinya


Ferry Kono Bangga Tim Dayung Indonesia Raih Medali Emas Perdana di Nomor Canoeing

Laporan Wartawan, Abdul Majid

TRIBUNNEWS.COM, HAI PHONG – Chef de Mission (CdM), Ferry Kono turut menyaksikan partai final Cabor Dayung SEA Games 2021 Vietnam di Venue Dayung, Hai Phong, Rabu (18/5/2022).

Dalam ajang ini, Tim Canoeing Indonesia akhirnya dapat medali emas perdana saat tampil pada kelas MK4 1000 yang diperkuat oleh Andri Agus Mulyana, Tri Wahyu Buwono, Joko Adriyanto dan Sutrisno.

Andri dkk. keluar sebagai pemenang dengan catatan waktu 03.15.905. kemudian di posisi kedua ditempati atlet Myanmar Tun Min Thant, Htet Wai Lwin, Myint Ko Ko, Swa Moe Gung (03.17.525 dan tempat ketiga didapatkan tuan rumah, Tran Van Vu, Tong Hoang Nam (03.18.713).

Ferry Kono mengatakan raihan medali emas kelas MK4 1000 memang sudah diprediksi.

Ferry berharap medali emas ini menjadi lecutan atlet dayung lainnya agar bisa meraih emas pada kelas-kelas selanjutnya.

“Ya ini sudah prediksi kami dari semalam, sudah komunikasi dengan tim pelatih. Jadi kami yakin hari ini bisa mendapatkan medali emas untuk indonesia,” kata Ferry Kono kepada Tribunnews.

“Masih ada pertandingan lagi, kami masih menanti tambahan empat sampai lima emas lagi dari sini. Harapan kami  ya bisa dapat banyak emas dari sini,” sambungnya.

Hal senada juga dikatakan pelatih kepala tim canoeing Indonesia, Muhammad Suryadi.

Suryadi sudah meyakini bisa dapat medali emas saat mengetahui catatan waktu Andri dkk. lebih baik dari pesaingnya saat tampil di babak penyisihan.

“Dari penyisihan terlahir kami sudah melihat negara lainnya, kayuhan dan catatan waktunya. Kami bandingkan dengan tim Indonesia dan kami bisa rata-ratakan waktunya dan kami sudah prediksi untuk medali emas,” jelasnya.

Selain mendapat satu medali emas, pada hari kedua ini tim canoeing Indonesia juga mendulang dua perak dan satu perunggu.

Dua medali perak didapatkan oleh Maizir Riyondra kelas MK 1 1000 dan kelas MC4 1000 yang diperkuat Muhammad Yunus Rustandi, Dedi Saputra, Muhammad Burhan, Sofianto.

Sementara satu perunggu didapatkan pedayung putri muda yakni Devita Savitri dan Reski Wahyuni yang turun pada kelas WC2 1000.


Cara Cek Sisa Angsuran KUR BRI dengan Mudah

Melalui KUR, nasabah BRI dapat meminjam modal untuk usaha dengan syarat dan ketentuan yang berlaku. Adapun jangka waktu pinjaman beragam, mulai dari 12 bulan, 18 bulan, dan 24 bulan. Selain itu, pinjaman KUR BRI terbebas dari biaya administrasi dan provisi.


Menyambangi Al Madam, Desa Mati yang Terkubur Padang Pasir

“Saya tahu desa ini setelah Googling, ‘Destinasi wisata terbaik di Dubai’,” tutur Jason, lelaki ekspat asal Inggris yang saya temui di Uni Emirat Arab pada November lalu.

Tempat yang ia maksud adalah Al Madam, desa kecil yang menyimpan segudang misteri hanya satu jam dari Dubai. Al Madam dulunya merupakan permukiman orang Arab yang relatif sepi. Hanya ada 12 rumah penduduk dan satu masjid sejak desa itu berdiri pada 1975. Namun, entah kenapa, orang-orang mendadak pergi meninggalkan rumah mereka sekitar 10 tahun kemudian.

“Saya coba tanya-tanya tentang desa ini ke warga setempat. Mereka bilang takut berkunjung ke sana karena tempatnya angker,” Jason melanjutkan. “Saya semakin penasaran untuk datang ke tempat itu. Memang sih, saya seperti merasakan kehadiran makhluk halus saat di sana. Atau mungkin, itu cuma sugesti saja.”

Rumor tentang desa berhantu menyebar luas setelah Al Madam kosong ditinggal oleh para penghuninya. Ada yang percaya jin penunggu desa itu mengusik ketenangan warga. Beberapa menyebut makhluk gaibnya berwujud Umm Al Duwais, jin perempuan dari cerita rakyat yang terkenal di UEA. Jin itu diyakini suka menggoda orang-orang yang melintasi gurun dengan aroma parfum dan parasnya yang cantik.

Pada 2018, tim Yayasan Seni Sharjah mengunjungi Al Madam dan melakukan investigasi untuk meluruskan misteri-misteri yang beredar di publik. Hasil penelusuran mereka disuguhkan dalam video dokumenter berjudul The Landing setahun kemudian.

Tak ada satu pun penduduk asli yang dapat diwawancara lantaran mereka telah meninggal dunia. Akan tetapi, menurut kesaksian para warga di desa tetangga, Al Madam sebelum berubah menjadi desa, merupakan tempat penampungan kelompok nomaden selama proses modernisasi negara berlangsung. Entah apa alasan penduduk angkat kaki dari desa itu, tapi kebanyakan dari mereka kembali menetap di distrik Al Madam lain sepanjang 1982-1985.

Alasan paling masuk akal adalah daerah ini kerap diterjang badai pasir yang begitu hebat. “Daerah itu terdampak parah setiap ada badai pasir,” kata lelaki yang diwawancarai Yayasan Seni Sharjah pada 2018. Dia mengklaim saudara iparnya pernah tinggal di Al Madam. “Pengepul besi tua mengambil pintu dan benda logam lainnya setelah rumah-rumah tak lagi berpenghuni. Mereka bahkan melucuti isi masjid.”

Banyak penduduk yang tinggal di desa dekat Al Madam tak tahu-menahu dari mana cerita hantunya tercipta. “Namanya juga manusia. Orang suka berfoto dan mengarang cerita. Enggak heran kalau ada yang bilang desanya angker,” tandas warga lain, yang juga menjadi narasumber dalam video dokumenter.

Noorhan, pemilik bengkel di sebuah distrik tak jauh dari Al Madam, menyebut desa itu mulai menarik perhatian wisatawan sekitar 5-6 tahun lalu. Menurutnya, desa Al Madam menjadi populer berkat video seorang YouTuber yang main ke sana. “Dia mengunggah video cerita hantu [tentang desa Al Madam] ke YouTube. Dari situ, orang mulai berdatangan,” katanya. “Tak pernah ada yang berkunjung ke sana sebelumnya.”

Jalan menuju desa mati ini sulit diakses sebelum popularitasnya melejit. Kalaupun ada yang main ke Al Madam, mereka warga lokal yang terpesona dengan rumah-rumah yang terkubur gurun pasir. “Desa itu tidak punya jalan sebelum industrialisasi Dubai,” terang Noorhan. “Dulu hanya penduduk setempat yang bisa mampir dan menginap di rumah-rumah kosong. Mereka berkemah di tengah gurun atau tidur di atas atap.”

Noorhan mengutarakan, pemerintah setempat telah berupaya menutup akses jalan ke desa Al Madam selama lima tahun terakhir. Tapi dalam praktiknya, mereka tidak pernah memasang pembatas untuk mencegah kedatangan orang luar. “Banyak sekali pelancong yang datang dan berkemah di sini — kebanyakan orang Eropa,” ujarnya. “Sekarang pun kami sering melihat mobil berlalu-lalang setiap harinya.” 

Sektor pariwisata regional tak pernah melarang wisatawan berkunjung ke Al Madam. “Untuk saat ini, kami tidak memiliki rencana mengubah Al Madam menjadi tempat wisata. Tapi wisatawan sangat diperbolehkan datang ke sini,” kata juru bicara organisasi pariwisata, dilansir CNN pada 2020.

Shahzai selaku pemilik agen perjalanan wisata di Al Madam melihat peluang yang menggiurkan dari desa yang tertutup pasir itu. “Banyak sekali artikel yang membahas tentang desa mati ini,” tuturnya kepada VICE. “Ini kesempatan bagus bagi kami untuk menawarkan paket wisata. Jaraknya cuma 10 menit dari sini.”

Shahzai pribadi percaya makhluk gaib benar-benar ada, dan mendorong para pengunjung untuk membuktikannya sendiri. “Jin takkan mengganggumu,” imbuhnya. “Jin tidak suka dekat-dekat manusia, dan berada di tempat yang tak pernah dikunjungi manusia.”

Shahzai sudah 22 tahun tinggal di dekat desa Al Madam, tapi dia tidak pernah satu kali pun melihat jin penunggu yang amat ditakutkan itu. “Saya telah melihat macam-macam,” klaimnya, “tapi belum pernah melihat apa-apa di Al Madam. Yang pasti, makhluk gaib tidak pernah menunjukkan keberadaannya, atau siapa yang mengirimnya. Mereka tukang bohong.”

Simak penampakan rumah-rumah yang terkubur pasir di Al Madam:


Masker Memang Tak lagi Wajib Dipakai, Tapi Prokes Harus Tetap Dipatuhi – Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi PAN Saleh Partaonan Daulay mengapresiasi kebijakan pelonggaran pemakaian masker yang ditetapkan oleh Pemerintah. Kebijakan tersebut diharapkan dapat meningkatkan produktivitas masyarakat dalam upaya pemulihan ekonomi nasional.

Kebijakan ini juga sekaligus dapat mengurangi kejenuhan dan kebosanan masyarakat yang diminta memakai masker lebih dua tahun terakhir. “Saya yakin, kebijakan ini sudah melalui evaluasi dan pertimbangan yang matang. Selain penyebaran virus korona yang sudah turun, pelaksanaan imunisasi yang sudah hampir merampungkan tahap I dan II menjadi pertimbangan. Apalagi didukung oleh penggalakan vaksin booster yang semakin hari semakin tinggi di tengah masyarakat,” kata Saleh, Rabu (18/5).

Meski demikian, pelonggaran ini diharapkan tidak membuat masyarakat menjadi lengah. Protokol kesehatan standar harus tetap dipatuhi, di tempat-tempat keramaian harus tetap memakai masker, menjaga jarak dan menghindari kerumunan harus tetap dilaksanakan.

“Begitu juga cuci tangan, itu harus menjadi kebiasaan. Sebab, kebersihan anggota tubuh menjadi sangat penting baik di masa pandemi ataupun di masa normal. Kebersihan adalah kunci utama kesehatan. Itu berlaku universal. Karena itu, kebersihan harus tetap dijaga dan digalakkan,” ungkap Saleh.

Terkait menuju fase endemi, lanjut Saleh, masyarakat harus bersabar. Karena banyak faktor yang masih perlu dikaji dan didalami. Jika nanti sudah dianggap tepat, status endemi tersebut pasti akan diumumkan.

“Saya berharap, bahwa kebijakan terbaru ini dapat membuka pintu untuk mengalihkan kita ke fase endemi. Fase endemi ini tentu bisa dilalui bersama jika ada kesadaran untuk saling menjaga dan saling mengingatkan. Saling menjaga kesehatan, saling mengingatkan agar semua bisa sehat,” ujar Saleh.

Editor : Dinarsa Kurniawan

Reporter : Muhammad Ridwan


Delapan Jurusan IT dengan Prospek Kerja Menjanjikan

Bidang IT tak melulu bergulat dengan ilmu coding atau pemrograman

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Teknologi kian berkembang seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan peradaban manusia. Berbagai inovasi telah diciptakan untuk memudahkan pekerjaan manusia. Tak ayal, di masa depan teknologi menjadi sebuah acuan pilar negara dikatakan sebagai negara maju. 

Kemunculan perusahan rintisan baru atau startup, membuat prospek karier lulusan IT (Information Technology) mendulang kesuksesan bagi pemilihnya. Pasalnya, banyak perusahaan dari berbagai bidang industri memerlukan pelakon IT untuk mendongkrak kemajuan perusahaan juga. Dikutip dari LinkedIn, bidang IT sukses menduduki posisi 10 besar pekerjaan yang paling banyak memiliki permintaan dari perusaahan. 

Bidang IT tak melulu bergulat dengan ilmu coding atau pemrograman. Ada banyak jurusan IT yang mempelajari ilmu lainnya. Berikut delapan jurusan kuliah IT yang memiliki prospek kerja menjanjikan: 

1. Teknologi Komputer

Jurusan ini mempelajari perangkat komputer baik hardware maupun software dan sistem jaringan telekomunikasi. Lulusan teknologi komputer dapat bernaung sebagai software engineer, arsitek jaringan komputer, hardware engineer, game developer, IT consultant, hingga robotics engineer. 

Ketua Prodi Teknologi Komputer Universitas BSI (Bina Sarana Informatika) Rahmat Adi Purnama mengatakan jurusan teknologi komputer merupakan kombinasi antara ilmu komunikasi dengan ilmu komputer yang terintegrasi dengan ilmu teknik elektro, sehingga memberikan prospek kerja yang menjanjikan. 

2. Sistem Informasi

Jurusan Sistem Informasi berfokus pada bidang software, tapi lebih memperdalam penerapan bisnis pada perusahaan. Jurusan ini mempelajari bagaimana cara mendesain sistem yang sesuai tujuan perusahaan dengan kebutuhan proses bisnis. 

Ketua Prodi Sistem Informasi Universitas BSI Sriyadi mengungkapkan lulusan sistem informasi memiliki prospek kerja sebagai system administrator, object programmer, database administrator, IT business analyst, analyst system, hingga web atau mobile developer. 

3. Teknik Industri

Pemanfaatan teknologi dan sektor manufaktur berbasis internet dan bisnis digital menjadikan jurusan teknik industri mempelajari proses industri baik dari sisi manajemen ataupun teknik. Teknik industri berfokus pada perancangan, peningkatan dan pemasangan sistem yang terintegrasi dengan peran manusia, material, peralatan, dan energi. 

Kaprodi Teknik Industri Universitas BSI Miwan Kurniawan menjelaskan prospek kerja lulusan teknik industri terbentang luas seperti production planning and inventory control (PPIC) manager, quality management system (QMS) manager, dan marketing manager. 




Melihat Surplus Neraca Dagang Era Jokowi yang Sukses Cetak Sejarah

Jakarta, CNN Indonesia

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus neraca perdagangan Indonesia mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah, yakni US$7,56 miliar pada April 2022.

“Ini adalah rekor baru dan ini tertinggi, sebelumnya pada Oktober 2021 yaitu sebesar US$5,74 miliar. Jadi surplus ini (tertinggi) sepanjang sejarah,” ungkap Kepala BPS Margo Yuwono saat konferensi pers secara daring, Selasa (17/5).

Surplus terjadi karena kinerja ekspor ‘tokcer’, di mana realisasinya naik 3,11 persen secara bulanan menjadi US$27,32 miliar. Sementara realisasi impor justru turun 10,01 persen menjadi US$19,76 miliar.

Margo mengatakan surplus ini terjadi karena ada kenaikan harga sejumlah komoditas, misalnya harga CPO yang naik 56 persen secara tahunan. Begitu juga dengan harga batu bara yang melejit 238 persen, minyak mentah 65 persen, gas alam 350 persen, timah 51 persen, nikel 100 persen, dan kopi 39 persen.

Selain itu, ada juga peningkatan realisasi ekspor dari beberapa komoditas lain.

“Penyumbang surplus terbesar lemak dan minyak hewan nabati dan bahan bakar mineral,” ujar Margo.

Intinya, ada peningkatan permintaan komoditas nasional dari pasar dunia. Namun, ini bukan hal yang tiba-tiba terjadi.

Sebab, permintaan ekspor yang tinggi sudah terjadi sejak beberapa bulan terakhir. Hasilnya, neraca dagang pun mencatatkan surplus.

“Kalau diperhatikan surplus ini beruntun selama 24 bulan,” ucap Margo.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Febrio N Kacaribu mengatakan Indonesia berhasil mengantongi surplus dagang karena tingginya realisasi ekspor. Hal ini terjadi karena tren positif harga komoditas di pasar dunia dalam beberapa waktu terakhir, khususnya komoditas non migas.

Menurut dia, realisasi ini tak lepas dari sumber daya alam Indonesia yang begitu besar, keseriusan pemerintah dalam mengelola industri hilir. Hal ini membuat barang yang diekspor memiliki nilai tambah.

“Ini bukti nyata perbaikan struktur ekonomi yang fundamental,” kata Febrio.

Di sisi lain, kenaikan harga komoditas terjadi karena perang Rusia-Ukraina semakin panas.

“Di satu sisi, kenaikan harga komoditas global membawa dampak positif bagi ekspor kita, khususnya terkait komoditas energi, mineral, dan logam, di mana Indonesia mengekspor dalam jumlah besar sehingga menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia,” jelas Febrio.

Pemerintah pun berharap surplus neraca dagang bisa lebih besar lagi ke depan. Sebab, hal ini bisa memberi kontribusi yang lebih bagi perekonomian nasional.

“Sehingga diharapkan dapat menjaga momentum pemulihan energi,” tutup Febrio.

[Gambas:Video CNN]


[Gambas:Video CNN]


Justice Dept. Is Said to Request Transcripts From Jan. 6 Committee

WASHINGTON — The Justice Department has asked the House committee investigating the Jan. 6 attack for transcripts of interviews it is conducting behind closed doors, including some with associates of former President Donald J. Trump, according to people with knowledge of the situation.

The move is further evidence of the wide-ranging nature of the department’s criminal inquiry into the events leading up to the assault on the Capitol and the role played by Mr. Trump and his allies as they sought to keep him in office after his defeat in the 2020 election.

The House committee, which has no power to pursue criminal charges, has interviewed more than 1,000 people so far, and the transcripts could be used by the Justice Department as evidence in potential criminal cases, to pursue new leads or as a baseline for new interviews conducted by federal law enforcement officials.

Aides to Representative Bennie Thompson, Democrat of Mississippi and the chairman of the committee, have yet to reach a final agreement with the Justice Department on what will be turned over, according to a person with knowledge of the matter who spoke on the condition of anonymity because of the confidential nature of the investigations.

On April 20, Kenneth A. Polite Jr., the assistant attorney general for the criminal division, and Matthew M. Graves, the U.S. attorney for the District of Columbia, wrote to Timothy J. Heaphy, the lead investigator for the House panel, advising him that some committee interviews “may contain information relevant to a criminal investigation we are conducting.”

Mr. Polite and Mr. Graves did not indicate the number of transcripts they were requesting or whether any interviews were of particular interest. In their letter, they made a broad request, asking that the panel “provide to us transcripts of these interviews, and of any additional interviews you conduct in the future.”

A person familiar with the matter said the transcripts were part of a negotiation between the committee and the Justice Department in which the panel was hoping that prosecutors would turn over evidence in exchange for the transcripts.

“The interviews in the possession of the committee are the property of the committee,” said Representative Jamie Raskin, Democrat of Maryland and a member of the panel. “I imagine that the committee will want to see any relevant evidence used with any relevant legal context.”

Asked about the Justice Department’s request after this article was published, Mr. Thompson drew a distinction between handing over the committee’s materials and allowing certain documents to be reviewed. He suggested that the panel had invested significant time and effort into conducting so many interviews and was reluctant to simply turn them over.

“We can’t give them full access to our product,” he told reporters. “That would be premature at this point, because we haven’t completed our own work.”

A spokesman for the Justice Department declined to comment.

The department’s investigation has been operating on a separate track from the committee’s work. Generally, investigators working on the two inquiries have not been sharing information, except for at times communicating to ensure that a witness is not scheduled to appear before different investigators at the same time, according to a person with knowledge of the inquiries.

Thus far, the Justice Department has prosecuted more than 800 people on charges related to the storming of the Capitol. But over the past several months, the department has taken steps to widen its focus substantially to look at the planning for the rally on Jan. 6 that preceded the riot while also signaling that its investigation would encompass the broader efforts to overturn the election. And in recent weeks, Attorney General Merrick B. Garland has bolstered the core team tasked with handling the most sensitive and politically combustible elements of the inquiry.

Several months ago, the department quietly detailed a veteran federal prosecutor from Maryland, Thomas Windom, to the department’s headquarters. He is overseeing the politically fraught question of whether a case can be made related to other efforts to overturn the election, aside from the storming of the Capitol. That task could move the investigation closer to Mr. Trump and his inner circle.

A subpoena reviewed by The New York Times indicates that the Justice Department is exploring the actions taken by rally planners.

Prosecutors have begun asking for records about people who organized or spoke at several pro-Trump rallies after the 2020 election as well as anyone who provided security at those events, and about those who were deemed to be “V.I.P. attendees.”

They are also seeking information about any members of the executive and legislative branches who may have taken part in planning or executing the rallies, or tried to “obstruct, influence, impede or delay” the certification of the election, as the subpoena put it.

The Justice Department’s request for transcripts underscores how much ground the House committee has covered, and the unusual nature of a situation where a well-staffed congressional investigation has obtained testimony from key witnesses before a grand jury investigation.

The committee has signaled that it is considering making a criminal referral of Mr. Trump and some of his associates to the Justice Department, a step that could increase the pressure on Mr. Garland to pursue a case.

In a ruling in a civil suit filed by the committee, a federal judge found in March that Mr. Trump and John Eastman, a lawyer who had advised him on how to overturn the election, most likely had committed felonies, including obstructing the work of Congress and conspiring to defraud the United States.

The House committee, made up of seven Democrats and two Republicans, is led by Mr. Thompson and Representative Liz Cheney of Wyoming, one of only two House Republicans to embrace an inquiry scrutinizing the actions of their own party. The panel has about 45 employees, including more than a dozen former federal prosecutors and two former U.S. attorneys, and it is spending more than $1.6 million per quarter on its work.

The committee has obtained documents and testimony from a wide range of witnesses, including more than a dozen Trump White House officials, rally planners and some of the rioters themselves.

Those witnesses have included White House lawyers; Justice Department officials; security officers; members of the National Guard; staff members close to former Vice President Mike Pence; members of Mr. Trump’s personal legal team; Republicans who participated in a scheme to put forward pro-Trump electors from states won by Joseph R. Biden Jr.; Mr. Trump’s own family members; and the leaders of right-wing militia groups.

At least 16 Trump allies have signaled they will not fully cooperate with the committee. Faced with such resistance, investigators on the panel have taken a page out of organized crime prosecutions and have quietly turned at least six lower-level Trump administration staff members into witnesses who have provided information about their bosses’ activities.

Some of those witnesses — including an aide to Mark Meadows, the former White House chief of staff — have provided critical information.

The committee also has tried to obtain testimony from Republican members of Congress, and it issued subpoenas to five lawmakers last week. Those members have denigrated the panel’s work but have declined to say whether they would participate in the interviews, which are scheduled for the end of May. One of the lawmakers, Representative Jim Jordan of Ohio, said he received his subpoena on Monday and was reviewing it.

Mr. Garland and his top aides have been careful about not disclosing their investigative methods, and they have sought to emphasize their impartiality in limited public comments about the investigation.

“We investigate conduct and crimes, not people or viewpoints,” the deputy attorney general, Lisa O. Monaco, said last week during an interview at the University of Chicago.

“We follow the evidence,” she added. “It is very important to do that methodically.”